Sabtu, 25 Agustus 2012

0 KAMMI, secercah cahaya

Universitas Negeri Medan, kampus baruku.

Libur panjang telah usai.

Dan Akupun mulai menapaki babak baru.

Waktu bergulir begitu cepat melampaui batas-batas keinginan yang belum terwujud.

Aku kini telah menyandang baju bebas tak lagi baju putih plus celana abu-abu. Masih ingat betul saat dimana Aku melihat daftar kelulusan SNMPTN untuk masuk kampus ini –UNIMED-. Saat Aku meraba detak jantungku “loloskah Aku di antara beribu calon mahasiswa yang ingin mengenyam pendidikan disini?” Aku lihat daftar nama dan … di urutan agak pertengahan di koran itu kutemukan jua tiga kata yang kucari-cari ‘ILHAM MIRZAYA PUTRA’. Gak hanya diriku yang masuk di kampus favorit ini dari SMA Negeri 2 Medan, ada beberapa nama teman-temanku yang juga tertera di koran itu. Alhamdulillah….

Kepenatan memenuhi wajahku tatkala memasuki dunia mahasiswa di manajemen kelas-B. Aku belum begitu kenal orang-orang di kelas itu tapi mereka sudah memilihku tuk jadi wakil ketua RW, eh.. wakil komisaris kelas. Sebuah amanah yang memang telah sering ku lakoni sejak SD dan SMA. Tidak berapa lama saat semester dua, aku pun di daulat menjadi komisaris kelas., waduuh...  

Fakultas kami lumayan kasian, terletak di bawah naungan FMIPA, (duh., serasa dijajah FMIPA ni..). Artinya, fakultas kami saat itu memang masih numpang sama fakultas lain. Sesekali muncul juga sindiran hangat mahasiswa FMIPA terhadap kami. Kami sudah menjadi maklum, kondisinya memang demikian adanya dan kami pun makin lama sudah merasa biasa. Senangnya, saat ini Fakultas kami sudah baru, bahkan ada penambahan gedung (ada yang bilang sih, standar internasional, he..), meskipun begitu... masih saja kasian, karena letaknya berada di sudut kampus. Tapi.. Alhamdulillah jugak...

KAMMI, secercah cahaya.

Promosi besar-besaran dilakukan pelbagai organisasi, tepatnya saat awal kuliah. Sebagai mahasiswa baru di kampus, tentu Aku tertarik dengan hal-hal yang baru termasuk organisasi. Meskipun begitu, dari sekian banyak organisasi yang melakukan promosi belum ada yang membuat hati ku tertambat.

Awal semester dua, organisasi kampus ku tidak ada sama sekali. Masih teringat betul saat itu, saat dimana Eka Prasetya (temen organisasi ku pas SMA) ngajakin ikut Pra-Dauroh Marhalah KAMMI USU. Tau gak bro, yang kebayang di benak gue saat mendengar kata ‘dauroh marhalah’ ?. tak tebayang sama sekali., maklum baru denger., hee., tapi ngikut ajalah mudah-mudahan organisasi inilah yang ku cari, meskipun sampai hijrah kampus.

Ada sesuatu yang menggerakkan hatiku, hingga meringankan langkah kaki yang masih gamang ini, langkah yang mengantarkanku pada pertemuan yang disebut pra- Dauroh Marhalah itu. Aku sendiri masih asing dengan kata ‘dauroh marhalah’. Aku belum tahu acara seperti apa yang diadain KAMMI ini.

Subhanallah, Allah lah yang telah memberikan hidayah kepada hambaNya. Di luar yang kuperkirakan, pertemuan tersebut ternyata awal yang sangat mengesankan dan begitu berharga., sampai-sampai aku tergerak untuk mencari tahu keberadaan KAMMI UNIMED. Ku pinta nomor ketua KAMMI UNIMED melalui KAMMI USU, terus ku telpon dan langsung ku ajak ketemu.

Aku pun bergabung dengan KAMMI. pertemuan demi pertemuan yang ku ikuti sama sekali tidak membuat jenuh. Justru pertemuan itu memberikan tenaga ke seluruh tubuhku sehingga muncul semangat perubahan yang begitu dahsyat. Tentraa..m rasanya dada ini. Ceria hidup ini, optimis dan penuh senyuman.

Inilah yang sebenarnya sangat kubutuhkan sejak dulu. Bimbingan, pembinaan dan pemahaman Organisasi dan keIslaman yang benar. Berkumpul dengan komunitas yang baik, tempat orang-orang yang pengen baik. Sama-sama memperbaiki diri dalam bingkai ukhuwah dan negarawan yang begitu terasa.

Aku mulai mengenal istilah-istilah baru. Istilah yang sering dipakai oleh kakak-kakak  senior dan instruktur. Ikhwan, akhwat, akhi, ukhti, ana, antum, syuro, dan lain-lain. Kata-kata yang tadinya asing itu pun kini akrab di telingaku, juga telah biasa kuucapkan. Kini Aku adalah seorang ikhwan [bukan akhwat ],hehe... Teman-teman KAMMI memanggilku dengan panggilan istimewa ‘Akhi Mirza’. Aku merasa dimuliakan dengan panggilan tersebut. Subhanallah..

Inilah pertolongan Allah yang Maha Agung. Sesuatu yang sangat kudamba dan kuharapkan selama ini. Sesuatu yang membuatku terkontrol dari nafsu duniawi. Jalan yang benar, jalan orang-orang yang Allah ridhai. Jalan orang-orang yang diberikan nikmat kepada mereka, bukan jalan orang-orang yang dimurkai bukan pula jalan orang-orang yang sesat. Sesuai dengan do’a dan pintaku (Surah Al-Fatihah) yang senantiasa kupanjatkan dalam setiap shalat.

Ada kata-kata yang begitu melekat dalam ingatanku. Dari lisan seorang murabbi. Ketika itu dalam pertemuan madrasah KAMMI. Beliau menyampaikan taushiyahnya tentang berharganya sebuah hidayah Allah: 

”Hidayah itu jangan ditunggu-tunggu, ia musti dicari karena ia sangat berharga, dan jika sudah ketemu hidayah itu, dekaplah erat-erat, jangan lepaskan.

0 komentar:

Posting Komentar

 

Mata Pena Copyright © 2011 - |- Template created by O Pregador - |- Powered by Blogger Templates