Senin, 17 September 2012

0 Selamat PPL... Ikhwah...


ikhwah fillah...
Roda perjalanan akademis berputar. Saatnya masa tiga tahun dilewati. Dan setiap kita akan melalui perjalanan akademis yang sama, tak terkecuali bagi kader dakwah. Masa ini berlangsung selama tiga bulan atau lebih. Masa yang cukup lama. Masa dimana ruang teoritis berubah menjadi ruang realistis. Masa dimana kepakaran dan profesionalitas diuji. Inilah masa PPL (Program Pengalaman Lapangan).

Bagi kader dakwah, PPL bukan hanya sekedar memenuhi kehendak akademis. PPL memiliki arti yang lebih luas dari itu. Di sinilah setiap akh menemukan ladang dakwah untuk ditanami. Disinilah setiap akh diharuskan mencurahkan air walaupun sedikit guna memberi penyegar dan penyejuk. Karena setiap akh memahami betul bahwa dimanapun ia berada maka disitu terdapat peluang dakwah.

Di sisi lain, PPL juga merupakan realisasi dan ujian keteguhan kader dakwah. Keteguhan kader dakwah bukan lah sekedar membaca buku ’komitmen muslim sejati’ seraya menghafal karakteristik ideal kader dakwah di luar kepala. Lebih dari dari itu, setiap akh harus menjadi orang yang paling teguh dan paling kokoh sikapnya. Karena keteguhan adalah buah dari kesabaran.

ikhwah fillah...
Adalah keniscayaan bahwa dakwah di tengah masyarakat akan berhadapan dengan sejumlah kendala, tantangan, hambatan dan bahkan ancaman. Kondisi dakwah saat PPL tentu menggambarkan hal yang sama. Ada kalanya kendala itu datang dari luar berupa fitnah atau tembok birokrasi sekolah. Tapi bahayanya, justru kendala datang dari dalam diri berupa kealpaan kita terhadap dakwah, rongrongan hawa nafsu atau rapuhnya kekuatan dan ikatan ruhiyah.

Sering kali, masa PPL membuat kita lupa akan posisi kita sebagai kader dakwah. Sebutan ’mantan kader dakwah’ atau ’veteran da’i’ sungguh tak sedap dengar. Apalagi PPL membuka peluang itu selebar-lebarnya. Kealpaan kita dari perjuangan merupakan kendala yang membutuhkan kewaspadaan serius. Ia dapat membuat hati menjadi keras, lalu membuat semangat dan kemauan berangsur-angsur redup dan tidak berminat melanjutkan kerja dakwah.

Saat PPL, Bersikap non-aktif dari perjuangan bisa jadi disebabkan karena berpisah lama dengan sesama ikhwah. Pada akhirnya, jika kondisi ini dibiarkan terus-menerus, tanpa siraman iman dan terputusnya komunikasi bisa membuat kobaran semangat dakwah berangsur padam. Kehangatan Islam tidak dirasakan lagi. Romantisme dan dinamika dakwah sudah tidak menyentuh hati. Semakin hari hati kian berkarat, Alunan ayat suci sekalipun tidak mampu membangkitkan semangat dakwah. Selanjutnya, ia memutuskan hubungan dengan akh, tidak ingin terlibat dalam urusan perjuangan, dan tidak bersedia melakukan peran dakwah. Naudzubillah min dzalik.

Rasulullah Saw. mengajari umatnya sebuah do’a sebagai pembaharu jiwa dan meluruskan langkahnya dengan arahan ALLAH Swt:

”Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari rasa susah dan sedih, aku berlindung kepada-Mu dari sifat lemah dan malas, aku berlindung kepada-Mu dari sifat pengecut dan kikir, dan aku berlindung kepada-Mu dari lilitan utang dan tekanan orang.“ (HR. Abu Dawud)

Ikhwah fillah...
Rintangan dakwah dalam segala bentuknya merupakan lintasan yang musti dilewati. Lihatlah di sana, seorang pemuda dengan keteguhannya sedang menyerukan dakwah. Mengajak pada kebaikan, sebagai duta pertama Rasulullah di kota Madinah. Pemuda yang dihormati, penuh wibawa, dan disegani. Ia bernama Mush’ab Bin Umair.

Mush’ab Bin Umair telah membuktikan bahwa Rasulullah Saw. tidak salah memilih orang. Mush’ab benar-benar memahami tugasnya. Ia tahu apa yang harus dilakukan meskipun jauh dari rekan-rekannya. Ia sadar bahwa tugasnya adalah untuk berdakwah. Menyampaikan berita gembira lahirnya suatu agama yang mengajak manusia mencapai hidayah Allah dan membimbing mereka ke jalan yang lurus. Tugasnya seperti tugas Rasulullah: hanya menyampaikan.

Demikianlah duta Rasulullah yang pertama telah mencapai hasil gemilang tiada tara. Suatu keberhasilan yang layak diperoleh Mush’ab Bin Umair. Beberapa tahun kemudian, Rasulullah bersama para sahabatnya hijrah ke Madinah. Subhanallah.
#Meneladani Mush’ab Bin Umair

ikhwah fillah...
Ingatkah antum pernyataan sebelumnya ? pernyataan yang menyatakan bahwa masa PPL adalah masa dimana ruang teoritis berubah menjadi ruang realistis. Masa dimana kepakaran dan profesionalitas diuji. Maka jangan sampai ladang dakwah terus kita tanami tanpa menghiraukan kepakaran dan profesionalitas sebagai mahasiswa PPL. Yang haus akan ilmu. Yang sedang belajar metode pembelajaran efektif. Yang sedang belajar pengelolaan kelas. Yang sedang belajar pola komunikasi kepada siswa. Yang sedang belajar menjadi Guru Professional.

Selamat PPL ikhwah.., semoga PPL antum penuh berkah, ilmu, dan memberi manfaat.

--------------------------------------------------
Kemenangan dakwah bukan ditentukan oleh hitungan waktu, melainkan oleh prestasi amaliah kadernya. Oleh karena itu, perjuangan dakwah menghendaki lahirnya generasi yang istiqamah, yang berpegang teguh atas prinsip dakwah, dan yang tegar menghadapi ujian dan rintangan.

#Note:
Membahas tema ini sebenarnya ana bukanlah ahlinya, terus terang ana belum punya kemampuan untuk tampil sebagai pemikir dakwah. ana juga bukan pribadi yang cukup tangguh memikul beban dakwah dengan segala konsekuensinya. Apalagi ana tidak pernah mengalami PPL. Afwan minkum ikhwah... Wallahu a’lam.
Semoga ALLAH Swt. Menghitungnya sebagai amal ibadah.

0 komentar:

Posting Komentar

 

Mata Pena Copyright © 2011 - |- Template created by O Pregador - |- Powered by Blogger Templates